Sabtu, 14 Januari 2012

GURU DAN KETELADANAN


“ The foundations of character are built not by lecture,
but by bricks of good example, laid day by day”
(Leo B. Blessing)

Profesi guru merupakan profesi yang menarik dan unik. Menarik karena tidak semua orang yang pandai bisa menjadi guru atau membuat orang mengerti apa yang dia ajarkan. Unik karena guru berkaitan langsung dengan pembelajar (pelajar) yang multi karakter, watak dan keinginan serta latar belakang kehidupan mereka yang beragam. Disinilah kecakapan seorang guru sangat dituntut dalam mengharmonisasikan semua keberagaman tersebut. Apa sich guru itu? 
Guru menurut Macmillan adalah “someone who other people respect and go to for advice about a particular subject”. Guru adalah seorang yang dihormati dan tempat meminta nasihat untuk permasalahan-permasalahan tertentu. Guru memang bukan hanya sekedar pengajar (teacher), namun harus didefinisikan secara lebih luas lagi, karena memang seorang guru yang berhasil harus lebih dari sekedar mengajar (teach).
Parameter keberhasilan seorang guru dalam mengajar bisa dilihat dari sisi akademik dan sosial. Sisi akademik diantara indikatornya adalah efektifnya proses kegiatan belajar mengejar (kbm) dikelas, penyampaian materi pelajaran yang bersifat komprehensif dan dapat dicerna oleh peserta didik. Sedangkan keberhasilan dari sisi sosial dapat dilihat dari sejauh mana seorang guru bisa menjadi panutan bagi murid-muridnya. Guru, dalam hal ini, harus bisa memposisikan atau bahkan menjadikan dirinya teladan yang baik (uswah hasanah) bagi anak didiknya. Karena guru berarti digugu (ditaati) perintahnya dan di tiru tingkah lakunya.
Menjadi teladan yang baik bukan hanya di sekolah saja, namun lebih luas dari itu menjadi teladan harus dimulai dari lingkungan keluarga sampai lingkungan dimanapun si guru itu berada. Keteladanan juga berarti menyentuh seluruh aspek kehidupan guru tersebut dari hal-hal yang besar sampai kepada hal-hal yang kecil dan sepele seperti cara berpakaian, etika berbicara dan seterusnya. Karena percuma jika seorang guru menyuruh kebaikan tapi dia sendiri tidak bisa melakukan kebaikan tersebut. Dan perlu diingat bahwa dalam beberapa firmanNya, Allah SWT mengecam orang-orang yang hanya bisa menyampaikan kebenaran melalui kata-kata tanpa mampu dan mau mempraktekkanya. (QS Al-Baqarah: 44, Ash-Shaf: 2-3)
Keteladanan merupakan salah satu syarat penting dalam dunia pendidikan Islam karena Islam termasuk agama yang meletakkan pendidikan dan ilmu sebagai prasyarat terbentuknya manusia muslim seutuhnya (insan kamil) yang mampu mengamalkan ilmunya dan beramal atau bekerja sesuai dengan ilmunya.
Untuk mencapai hal tersebut setidaknya ada lima konsep dasar pengajaran yang harus dipenuhi oleh seorang guru.
Pertama,  I’m A God’s Creature (profesi guru adalah ibadah). Mengajar jika diniatkan sebagai persembahan kita untuk Sang Maha Berilmu, yang terbersit hanyalah kerendahan hati, penghargaan kepada sang pembelajar dan hasrat yang mengagumkan untuk selau memberikan yang terbaik. Mengajar akan lebih menetramkan dan membehagaikan semua pihak.
Kedua, I’m A Teacher (yang mengajar dengan hati).  Karena pada dasarnya apapun yang bermula dari hati akan juga diterima oleh hati. “What comes from the heart goes to the heart” demikian kata orang bijak. Memang banyak hal dalam hidup ini yang tidak kasat mata, namun sangat jelas bagi sang hati.
Disamping mata, telinga dan pikiran sebagai sarana meraih pengetahuan, Al-Quran pun menggaris bawahi peranan kesucian hati. Karena wahyu dianugerahkan atas kehendak Allah dan berdasarkan kebijaksanaanNya tanpa usaha dan campur tangan manusia. Sementara firasat, intuisi dan semacamnya dapat diraih melalui penyucian jiwa (tazkiyah nafs). Dari sini para ilmuwan muslim menekankan pentingnya penyucian jiwa (tazkiyah nafs), karena mereka sadar terhadap kebenaran firman Allah :
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi –tanpa alasan yang benar- dari ayat Ku.” (QS. Al-A’raf : 146) Jadi, bersihkan hati dan luruskan niat sebelum kita menyampaikan kebenaran.    
Ketiga, I’m A Guide (Yang membimbing dengan nurani). Membimbing dengan nurani adalah mengarahkan (directing) orang lain ke arah yang positif, tanpa membuat mereka merasa diarahkan. Membantu seseorang menyelesaikan masalahnya dengan memberikan masukan-masukan yang konstruktif, dengan cara yang arif, sehingga yang dibantu tidak merasa diajari dan tidak ada kesan “saya lebih hebat dari kamu”. Dan membimbing adalah tugas kita semua tidak terbatas pada guru ataupun orang tua.
Keempat, I’m An Educator (Yang membimbing dengan segenap keikhlasan). Mari kita sama-sama, bahu membahu mendidik anak bangsa ini dengan segenap kaikhlasan. Ini sungguh tidak sulit asal kita mau membulatkan tekad, menyatukan hati, menyelaraskan nurani untuk memberikan yang terbaik!
Kelima, I’m An Inspirer (Yang menginspirasi dan menyampaikan kebenaran dengan rasa kasih). Terlalu sempit kalau proses pendidikan hanya bergantung pada kurikulum sekolah yang nota bene tidak menjanjikan apa-apa. Kita harus bersedia untuk belajar dari hidup yang sebenarnya. Kita bawa pernak pernik kehidupan ke ruang kelas kita, kita urai satu persatu dan kita nikmati pahit manisnya bersama para murid kita. Ini jauh lebih penting! Meladee McCarty berujar “Anak-anak di dalam kelas kita mutlak lebih penting dari pada pelajaran yang kita ajarkan pada mereka.”
Demikianlah, keteladanan menjadi salah satu sarat mutlak menuju tercapainya tujuan pendidikan. Keteladanan berarti mengedepankan aksi selain teori. Sesuai dengan sabda Rasul SAW bahwa “bahasa tindakan atau perilaku (lisaanul haal ) lebih efektif ketimbang bahasa ucapan (lisaanul maqaal)”.
Mari kita mempersiapkan diri kita menjadi panutan yang baik untuk diri, keluarga, masyarakat dan bangsa kita. Karena sesungguhnya kita mempunyai tanggung jawab moral dalam membentuk generasi berikut (the next generation) yang siap lahir batin dalam menghadapi masa depan dengan segala kompleksitas tantangan dan rintangannya. Wallahu a’lam bil shawab. (Abu Muhammad Endang Maryana)

       




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar