“ The
foundations of character are built not by lecture,
but by bricks
of good example, laid day by day”
(Leo B.
Blessing)
Profesi guru
merupakan profesi yang menarik dan unik. Menarik karena tidak semua orang yang pandai bisa menjadi guru atau
membuat orang mengerti apa yang dia ajarkan. Unik karena guru berkaitan langsung dengan pembelajar (pelajar)
yang multi karakter, watak dan keinginan serta latar belakang kehidupan mereka
yang beragam. Disinilah kecakapan seorang guru sangat dituntut dalam
mengharmonisasikan semua keberagaman tersebut. Apa sich guru itu?
Guru menurut
Macmillan adalah “someone who other
people respect and go to for advice about a particular subject”. Guru
adalah seorang yang dihormati dan tempat meminta nasihat untuk
permasalahan-permasalahan tertentu. Guru memang bukan hanya sekedar pengajar (teacher), namun harus didefinisikan
secara lebih luas lagi, karena memang seorang guru yang berhasil harus lebih
dari sekedar mengajar (teach).
Parameter
keberhasilan seorang guru dalam mengajar bisa dilihat dari sisi akademik dan
sosial. Sisi akademik diantara indikatornya adalah efektifnya proses kegiatan
belajar mengejar (kbm) dikelas, penyampaian materi pelajaran yang bersifat
komprehensif dan dapat dicerna oleh peserta didik. Sedangkan keberhasilan dari
sisi sosial dapat dilihat dari sejauh mana seorang guru bisa menjadi panutan
bagi murid-muridnya. Guru, dalam hal ini, harus bisa memposisikan atau bahkan
menjadikan dirinya teladan yang baik (uswah
hasanah) bagi anak didiknya. Karena guru berarti digugu (ditaati)
perintahnya dan di tiru tingkah lakunya.
Menjadi teladan
yang baik bukan hanya di sekolah saja, namun lebih luas dari itu menjadi
teladan harus dimulai dari lingkungan keluarga sampai lingkungan dimanapun si
guru itu berada. Keteladanan juga berarti menyentuh seluruh aspek kehidupan
guru tersebut dari hal-hal yang besar sampai kepada hal-hal yang kecil dan
sepele seperti cara berpakaian, etika berbicara dan seterusnya. Karena percuma
jika seorang guru menyuruh kebaikan tapi dia sendiri tidak bisa melakukan
kebaikan tersebut. Dan perlu diingat bahwa dalam beberapa firmanNya, Allah SWT
mengecam orang-orang yang hanya bisa menyampaikan kebenaran melalui kata-kata
tanpa mampu dan mau mempraktekkanya. (QS Al-Baqarah: 44, Ash-Shaf: 2-3)
Keteladanan
merupakan salah satu syarat penting dalam dunia pendidikan Islam karena Islam
termasuk agama yang meletakkan pendidikan dan ilmu sebagai prasyarat
terbentuknya manusia muslim seutuhnya (insan
kamil) yang mampu mengamalkan ilmunya dan beramal atau bekerja sesuai
dengan ilmunya.
Untuk mencapai
hal tersebut setidaknya ada lima konsep dasar pengajaran yang harus dipenuhi
oleh seorang guru.
Pertama, I’m A
God’s Creature (profesi guru adalah ibadah). Mengajar jika diniatkan
sebagai persembahan kita untuk Sang Maha Berilmu, yang terbersit hanyalah kerendahan hati, penghargaan kepada sang
pembelajar dan hasrat yang mengagumkan untuk selau memberikan yang terbaik.
Mengajar akan lebih menetramkan dan membehagaikan semua pihak.
Kedua, I’m A Teacher (yang mengajar dengan
hati). Karena pada dasarnya apapun yang
bermula dari hati akan juga diterima oleh hati. “What comes from the heart goes to the heart” demikian kata orang
bijak. Memang banyak hal dalam hidup ini yang tidak kasat mata, namun sangat
jelas bagi sang hati.
Disamping mata,
telinga dan pikiran sebagai sarana meraih pengetahuan, Al-Quran pun menggaris
bawahi peranan kesucian hati. Karena wahyu dianugerahkan atas kehendak Allah
dan berdasarkan kebijaksanaanNya tanpa usaha dan campur tangan manusia.
Sementara firasat, intuisi dan semacamnya dapat diraih melalui penyucian jiwa (tazkiyah nafs). Dari sini para ilmuwan
muslim menekankan pentingnya penyucian jiwa (tazkiyah nafs), karena mereka sadar terhadap kebenaran firman Allah
:
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan
diri di muka bumi –tanpa alasan yang benar- dari ayat Ku.”
(QS. Al-A’raf : 146) Jadi, bersihkan hati dan luruskan niat sebelum kita
menyampaikan kebenaran.
Ketiga, I’m A Guide (Yang membimbing dengan
nurani). Membimbing dengan nurani adalah mengarahkan (directing) orang lain ke
arah yang positif, tanpa membuat mereka merasa diarahkan. Membantu seseorang
menyelesaikan masalahnya dengan memberikan masukan-masukan yang konstruktif,
dengan cara yang arif, sehingga yang dibantu tidak merasa diajari dan tidak ada
kesan “saya lebih hebat dari kamu”.
Dan membimbing adalah tugas kita semua tidak terbatas pada guru ataupun orang
tua.
Keempat, I’m An Educator (Yang
membimbing dengan segenap keikhlasan). Mari kita sama-sama, bahu membahu
mendidik anak bangsa ini dengan segenap kaikhlasan. Ini sungguh tidak sulit
asal kita mau membulatkan tekad, menyatukan hati, menyelaraskan nurani untuk
memberikan yang terbaik!
Kelima, I’m An Inspirer (Yang
menginspirasi dan menyampaikan kebenaran dengan rasa kasih). Terlalu sempit
kalau proses pendidikan hanya bergantung pada kurikulum sekolah yang nota bene
tidak menjanjikan apa-apa. Kita harus bersedia untuk belajar dari hidup yang
sebenarnya. Kita bawa pernak pernik kehidupan ke ruang kelas kita, kita urai
satu persatu dan kita nikmati pahit manisnya bersama para murid kita. Ini jauh
lebih penting! Meladee McCarty
berujar “Anak-anak di dalam kelas kita
mutlak lebih penting dari pada pelajaran yang kita ajarkan pada mereka.”
Demikianlah,
keteladanan menjadi salah satu sarat mutlak menuju tercapainya tujuan
pendidikan. Keteladanan berarti mengedepankan aksi selain teori. Sesuai dengan
sabda Rasul SAW bahwa “bahasa tindakan
atau perilaku (lisaanul haal ) lebih efektif ketimbang bahasa ucapan (lisaanul
maqaal)”.
Mari kita
mempersiapkan diri kita menjadi panutan yang baik untuk diri, keluarga,
masyarakat dan bangsa kita. Karena sesungguhnya kita mempunyai tanggung jawab
moral dalam membentuk generasi berikut (the
next generation) yang siap lahir batin dalam menghadapi masa depan dengan
segala kompleksitas tantangan dan rintangannya. Wallahu a’lam bil shawab. (Abu Muhammad Endang Maryana)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar