Ya Allah janganlah Kau utus kepada kami,
karena dosa-dosa kami, para pemimpin yang tidak takut kepada Mu dan tidak
sayang kepada kami...
Jakarta akan diramaikan lagi
dengan digelarnya sebuah pesta politik, Pemilihan Gubernur atau Pemilihan
Kepala Daerah alias PILKADA. Pesta politik yang rencananya akan digelar pada
bulan Juni 2012 ini merupakan sebuah ajang pencarian dan penetapan gubernur DKI
Jakarta yang juga menjadi orang nomor wahid di propinsi yang menjadi ibukota
Negara ini.
Diantara sekian banyak acara
Pilkada atau Pemilukada yang digelar di berbagai daerah di tanah air, nampaknya
Pilkada atau pemilihan Gubernur DKI Jakarta menjadi penting dan menarik untuk
dicermati mengingat pentingnya posisi Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibukota
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sebagai ibukota Negara,
Jakarta menjadi salah satu barometernya Indonesia. Jakarta menjadi salah satu
kota tujuan wisata terbesar sehingga para wisatawan atau turis asing yang ingin
mengunjungi Indonesia belum afdhal rasanya kalau tidak mengunjungi Jakarta dan
mencoba untuk tinggal walau hanya beberapa hari saja.
Jakarta saat ini merupakan
kota metropolitan yang sedang tumbuh menjadi kota terbesar dengan segala
fasilitas yang memanjakan warga yang tinggal didalamnya. Tak heran jika
pembangunan gedung-gedung pusat perbelanjaan, apartemen-apartemen, real estate,
pusat-pusat pendidikan begitu maraknya di Provinsi ini.
Kondisi seperti ini membuat
Jakarta dianggap surga bagi para pencari kerja dari daerah lain. Kondisi ini
pun keruan saja membuat warga Negara Indonesia dari provinsi lain tertarik
untuk datang dan mengadu nasib di kota ini.
Urbanisasi besar-besaran ini
membuat Jakarta menjadi kota terpadat dibanding kota-kota lain di Indonesia. Akibatnya,
munculah masalah-masalah sosial yang datang silih berganti menyelimuti kota
tercinta ini. Daerah kumuh, banyaknya warga penyandang masalah social
(gelandangan dan pengemis), tingginya angka kriminalitas setiap tahunnya
merupakan sedikit dari masalah social yang pasti terjadi di kota ini. Belum
lagi masalah kemacetan, polusi udara, tanah dan air, banjir yang setiap saat
bisa terjadi menjadi masalah pelik yang membutuhkan penanganan serius.
Oleh karena pentingnya
posisi Jakarta diantara propinsi-propinsi lain di Indonesia dan segudang
masalah yang setiap saat terjadi di propinsi ini, maka kehadiran seorang
pemimpin yang saleh, cerdas dan tegas sangat dibutuhkan. Seorang pemimpin yang
bisa memberikan solusi yang tepat atas segala permasalahan yang terjadi di
ibukota ini.
Memang sulit mencari seorang
pemimpin yang sempurna, yang benar-benar mengerti keinginan rakyat dan mau
berjuang sungguh-sungguh untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat. Karena
kebanyakan mereka menampakkan kepeduliannya kepada rakyat, berbicara atas nama
rakyat dan berbuat baik untuk rakyat di saat-saat mereka butuh suara rakyat
agar mereka terpilih sebagai pemimpin (baca: Kepala Daerah).
Sulit bagi kita, para calon
pemilih, untuk mengenali mereka lebih mendalam. Karena mereka bukanlah saudara
kita, tetangga kita atau orang yang dekat dengan kita yang dapat kita amati
tingkah lakunya, kita kenali sifat dan karakternya dan kita telusuri dan
ketahui latar belakang keturunannya.
Sebagai muslim kita tidak
ingin terjebak dalam euphoria demokrasi melalui pilkada sehingga kita salah
dalam memilih seorang pemimpin. Tentu saja kita tidak ingin sembarangan memilih
seorang pemimpin dan memilih pemimpin yang sembarangan, pemimpin yang tidak
punya rasa takut kepada Allah, tidak punya rasa malu dan tidak peka terhadap
penderitaan rakyat. Karena jika itu yang kita lakukan maka kerugian yang akan
kita alami.
Tiga hal
Ada salah satu doa yang
berbunyi : Ya Allah sesungguhnya kami takut kepadaMU, kami takut kepada
orang-orang yang takut kepadaMU dan kami juga takut kepada orang-orang yang
tidak takut kepadaMU…
Dari doa tersebut kita
diajarkan untuk takut pada tiga hal: pertama, takut kepada Allah SWT
yaitu takut akan murka dan azabNya. Kedua, takut pada orang-orang yang
takut kepada Allah SWT yaitu para kekasih (auliya) Allah dan para ulama
yang zuhud dan wara’. Yang kita takuti adalah kualat yang
muncul akibat dari sikap menyakiti dan mengabaikan petunjuk dan nasihat mereka.
Ketiga, takut kepada orang yang tidak takut kepada Allah yaitu
orang-orang zalim, durhaka dan ahli maksiat. Yang kita takuti adalah kesialan
atau nasib sial yang mungkin sekali menimpa kita sebagai akibat dari
perbuatan mereka dan kecenderungan kita terhadap mereka.
Kita tidak tahu apakah para
kandidat calon gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2012 ini adalah tipe
orang-orang yang takut kepada Allah atau jenis manusia yang tidak takut pada
Allah SWT. Hanya Allah saja yang tahu apa yang tersirat di hati mereka. Namun yang
pasti menurut tim sukses dari masing-masing pasangan calon gubernur dan wakil
gubernur DKI Jakarta 2012, mereka adalah orang-orang yang berkomitmen kuat
untuk membenahi dan memajukan kota Jakarta juga mensejahterakan seluruh warga
Jakarta. Semoga apa yang mereka kampanyekan dapat mereka realisasikan di saat
mereka terpilih nanti tidak hanya menjadi pemanis bibir untuk kepentingan
sesaat.
Dalam kondisi seperti ini
setidaknya ada tiga hal yang dapat kita jadikan bahan renungan sebelum kita
memilih pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2012.
Pertama, hal
yang paling penting dan mendasar adalah akidah atau keyakinan. Janganlah
memilih orang yang berbeda keyakinan (agama) dengan kita. Karena Allah SWT
sangat melarang hal tersebut. (Lihat QS. Ali Imran : 28, An-Nisa: 89, 139 &
144, Al-Maidah: 51 & 57). Bahkan dalam surah An-Nisa : 139 orang yang
menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dikategorikan oleh Allah sebagai
orang-orang munafiq. Na’udzubillah min dzalik.
Kedua,
lakukan salat istikharah karena Rasulullah SAW menjamin tidak akan
merugi orang yang menentukan pilihannya melalui salat istikharah. Dan
seharusnya dalam kondisi menjelang Pilkada ini atau Pemilu anggota DPR dan
Presiden misalnya, para ulama menyerukan umat Islam untuk melaksanakan salat
istikharah secara nasional mengingat kegiatan-kegiatan seperti ini bukanlah hal
main-main. Pilkada atau pemilu menentukan nasib bangsa di masa
depan. Salah saja bangsa ini memilih
pemimpin maka celakalah bangsa ini!
Ketiga, diakui
atau tidak kita dihadapkan pada pilihan yang sulit. Dalam hal ini prinsip
mencari best of the best atau mencari yang terbaik diantara yang baik
adalah sulit. Apalagi para kandidat ini
mempunyai keterlibatan dengan masa lalu lengkap dengan kekurangan dan
kelebihannya. Prinsip mencari yang terbaik diantara yang terburuk (the best
among worst) kemungkinan menjadi istilah yang bisa mewakili gambaran atas
situasi seperti ini. Dalam bahasa agama, menghadapi situasi seperti ini, kalau
memang kita tidak menemukan calon yang, menurut kita, benar-benar istiqamah
dan bertanggung jawab untuk memimpin Jakarta ini, maka carilah satu calon pemimpin yang madaratnya
lebih ringan dan lebih sedikit (akhaff al- Dhararain) ketimbang
calon-calon yang lain.
Akhirnya, setelah proses ikhtiar
kita lakukan dengan maksimal marilah kita bertawakkal kepada Allah dengan
sebenar-benarnya tawakkal seraya terus berharap dan berdoa semoga Allah tidak
mengutus kepada kita, karena dosa-dosa kita, para pemimpin yang tidak takut
kepada Allah dan tidak sayang kepada kita. (Allaahumma laa tusallith
‘alainaa bidzunuubinaa man laa yakhaafuka wa laa yarhamunaa). Amin.
Semoga dalam Pilkada 2012
ini, kita dan semua warga Jakarta dibimbing oleh Allah untuk tidak salah dalam memilih
dan mengangkat pemimpin demi kemaslahatan Jakarta dan jutaan warga yang
tinggal didalamnya. Selamat memilih!!! (Abu Muhammad Endang Maryana)